Wednesday, February 6, 2019

Pengaruh Korean Wave Terhadap Kehidupan Remaja Indonesia


Pengaruh Korean Wave dalam Kehidupan Remaja Indonesia

Remaja Indonesia, memiliki keunikan dalam hal mempelajari sesuatu. Dengan kecenderungan pola imitasi (peniruan) yang cukup tinggi, maka tak heran ketika arus globalisasi membukakan pintunya terhadap Korean wave, khususnya K-Pop di kalangan remaja, menimbulkan pengaruh yang sedemikian besar.  Adaptasi yang dilakukan pun menjalar ke berbagai aspek kehidupan pada sebagian kalangan remaja. 

Sebenarnya, Korean wave memang menjadi fenomena yang mendunia sejak awal tahun 2000. Tak terkecuali pada Bangsa Eropa, yang secara budaya juga memiilki kekhasan ciri dan prinsip yang kuat. Namun memang tak dapat dipungkiri, bahwa daya tarik (appeal) yang dimiliki Korea ini memang memiliki energi yang luar biasa, sehingga pengaruhnya begitu kuat, apalagi dengan proses penyebaran yang lembut serta menempati area stategis (dunia  remaja) melalui media hiburan terutama. Entertainment, sebagaimana dalam kehidupan kelompok usia lain, adalah sebuah media yang paling strategis dalam menebarkan “pesan” dan memengaruhi pikiran audiens.

Secara umum, kehadiran K-Pop yang masuk melalui berbagai media (terutama internet), telah menghadirkan beberapa perubahan pada kehidupan remaja generasi 2000-an khususnya. Mengapa internet lebih diminati, tentu sederet alasan kuat seperti ekonomis, praktis, dan menyajikan informasi yang lebih bervariasi serta ter-update menjadi pertimbangan utama. Terutama di kalangan remaja, yang tak lepas dari sarana gadget, yang membuat segala informasi cenderung mudah diakses secara real-time. Aspek-aspek kehidupan remaja yang mengalami perubahan antara lain:

1. Standar selera penampilan fisik
Kehadiran sosok-sosok idola baru yang ditampilkan melalui dunia entertain khususnya K-drama dan K-Pop yang muncul beriringan, senyatanya telah membuat tipe selera remaja mengalami pergeseran. Ini tidak terlepas dari daya tarik (appeal) yang dimiliki oleh artis Korea yang energik dan memiliki ciri fisik yang cenderung menarik, khususnya bagi kalangan muda. Kulit putih, mata bundar dengan kelopak mungil, rambut dengan warna lembut, tubuh langsing enerjik menjadi figur ideal bagi penampilan seseorang. Dalam dunia perfilman, dengan pemilihan tema cerita yang realistis dan dekat dengan problematika masyarakat umum, perasaan audiens menjadi lebih dibuai, apalagi ditambah dengan penyajian karakter yang sangat menjiwai peran dalam dunia acting. Sedang dalam industri musik yang lebih banyak berkembang dalam kelompok usia remaja, penampilan mereka didukung oleh keseriusan mereka dalam meningkatkan kualitas vokal serta tarian (dance) dengan gerakannya yang penuh energi. Kesemua ini membuat daya tarik para artis tersebut kian memendar.

2. Selera musik (genre)
Perkembangan industri musik Korea, khususnya K-Pop, yang cenderung terus menambah speed-nya dalam peningkatan kualitas dan penyebarannya, memang menjadikannya cepat meraih kesuksesan dan merambah dunia internasional, termasuk Indonesia. Dengan prosentase artis terbanyak dari kalangan remaja, maka proses distribusi menjadi kian lebih mudah dalam hal penetrasinya, karena kecenderungan remaja menyukai hal-hal baru yang menantang. Apalagi figur artisnya secara fisik juga memiliki kesan indah dan unik.

3. Sikap dan Perilaku (self-care, gaya komunikasi, aktivitas bersosial media)
Remaja, dengan kecenderungan mulai memberi perhatian pada penampilan fisik karena fase pubertas dan pencarian eksistensi diri, mulai memunculkan hasrat untuk mencoba memaksimalkan kesan dirinya. Artis-artis Korea yang berhasil menebarkan pesona keindahannya, senyatanya telah menjadi sumber inspirasi bagi kalangan remaja yang cukup memiliki kecenderungan mengedepankan penampilan fisik. Perhatian mereka dalam hal perawatan kulit banyak terinspirasi oleh cara-cara remaja Korea merawat dirinya. Hal ini terbukti dengan semakin maraknya produk-produk perawatan kulit ala Korea disajikan oleh pasar. Selain inspirasi daya tarik fisik, remaja Indonesia juga banyak mengadaptasi gaya komunikasi remaja Korea dengan simbol-simbol gerakan tangan. Sebagaimana dengan perubahan perilaku dalam dunia nyata, remaja Indonesia juga menampakkan perubahan pola perilaku dalam dunia maya. Pergaulan mereka banyak tergeser ke dalam komunitas-komunitas fandom dan memperlihatkan intensitas penggunaan internet agar mereka senantiasa ter-update, alias tak ketinggalan berita baru. Kekinian, bahasa populernya. Ini tentu akan menimbulkan banyak konsekuensi logis dalam hal sosialisasi, baik positif maupun negatif. 

4. Life-style (fashion, kuliner, bahasa)
Tren busana merupakan salah satu aspek yang juga cukup terdampak oleh Korean wave. Ini merupakan bentuk adaptasi yang paling mudah dijalankan, karena tidak melibatkan kemampuan kognitif seperti halnya berbahasa. Persaingan dalam hal harga juga membuat barang-barang konsumtif ini mudah dijangkau. Dalam hal tren busana, pengaruhnya tidak sedalam pengaruh terhadap selera fisik. Ini mungkin dikarenakan secara budaya, Indonesia memiliki banyak kiblat yang menjadi sumber inspirasi, dan juga masih banyak remaja yang memiliki konsep diri tak tergoyahkan, entah itu berbasis akhlak atau prinsip serta selera individu dalam berpenampilan. Dalam hal kuliner, pengaruh cukup terlihat pada gaya makanan dan minuman yang semakin marak tersaji dalam konsep penganan ala Korea. Hal ini terlihat dalam merebaknya kemunculan resto ala Korea hingga makanan instan yang tersaji di berbagai pasar lokal. Pengaruh  Korean wave dalam hal bahasa juga nampak dari semangat para remaja memelajari Bahasa Korea dan meningkatnya lembaga kursus Bahasa Korea di Indonesia.

5. Pengetahuan (cenderung mengalami rasa ingin tahu tentang Korea lebih dalam)
Semangat imitasi remaja terhadap budaya yang dibawa oleh remaja Korea tampaknya juga menciptakan rasa ingin tahu yang berkembang. Keingintahuan remaja tentang latar belakang budaya sang idola tak jarang mendorong mereka untuk berupaya mengenal Negara Ginseng ini lebih dalam, bahkan hingga menjadikan Korea sebagai salah satu destinasi wisata yang dicita-citakan. Hal ini memberi berbagai dampak yang tentunya lengkap dengan konsekuensinya. Bertambahnya pengetahuan melalui pencarian informasi serta perjalanan wisata tentunya juga menjadi hal positif sejauh hal ini tidak diikuti dengan pola hidup konsumtif yakni mengikuti hasrat untuk mengimitasi terlalu banyak budaya mereka.

Perkembangan  Korean wave di Indonesia sangat pesat dengan adanya media sosial yang cenderung tak memiliki batas ruang dan waktu. Perkembangan ini juga tidak terlepas dari faktor geografis Indonesia yang masih berada dalam wilayah Asia, sehingga penetrasi budaya tidak menimbulkan kontras yang ekstrim. Selain itu, faktor psikologis remaja yang senantiasa mencari hal baru, tantangan serta pembentukan identitas membuat remaja senang mencoba sesuatu yang unik. Seberapa jauh perubahan atau adaptasi yang dilakukan oleh remaja ini, dipengaruhi oleh konsep diri yang dimiliki oleh masing-masing individu.